Filosofi Pulis-Ball Yang Dibenci Namun Dirindukan

Posted on

Filosofi Pulis-Ball Yang Dibenci Namun Dirindukan – Liga Inggris memang sudah hampir berakhir dengan meninggalkan berbagai cerita. Mulai dari Liverpool yang berhasil juara setelah 20 tahun lamanya, Arsenal dan Tottenhan yang terpuruk. Leicester yang merengsek ke 4 besar hingga Wolves dan Sheffield United yang membuat kejutan besar musim ini. Namun, bagi saya sendiri yang sudah menjadi penonton. Liga Inggris sejak 11 tahun yang lalu, sepertinya ada sesuatu yang hilang dengan Liga Inggris musim ini. Apakah itu.

Filosofi Pulis-Ball Yang Dibenci Namun Dirindukan

Filosofi Pulis-Ball Yang Dibenci Namun Dirindukan

Bagi yang sudah menjadi penonton Liga Inggris hingga puluhan tahun lamanya, pasti sudah tidak asing dengan nama dan sosok tersebut. Lalu siapakah Tony Pulis mengapa seketika dia dirindukan oleh para penikmat. Liga Inggris dan apa saja yang sudah diperbuatnya selama berkecimpung di Liga Inggris. Tony Pulis adalah sosok pelatih berkebangsaan. Wales yang pernah menjadi bagian dari kompetitor Liga Inggris.

Meski namanya tidak sementereng dengan prestasi dan piala, namun. Tony Pulis adalah sosok pelatih yang sering menjadi momok yang cukup menakutkan dan merepotkan tim-tim besar dan pelatih-pelatih Liga Inggris lainya. Bahkan nama-nama pelatih ternama yang pernah menjuarai dan mendominasi Liga Inggris seperti Sir Alex Ferguson. Arsene Wenger, Rafael Benitez,Carlo Ancelotti, Roberto Mancini hingga Jose Mourinho pernah dibuat repot oleh Tony Pulis itu sendiri.

Bahkan, Arsene Wenger pernah mengatakan bahwa Tony Pulis dengan strategi dan taktik. Pertandinganya adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dibenci oleh Wenger sendiri. Lalu apa yang membuat Tony Pulis begitu spesial dan dirindukan. Jika berbicara tentang sosok Tony Pulis, pastinya publik akan teringat Pulis sebagai sosok yang identik dengan Stoke City meskipun. Pulis pada musim-musim selanjutnya menangani klub Liga Inggris lainya yaitu Crystal Palace dan West Bromwich Albion.

Stoke City memang sudah terdegradasi ke Divisi Championship pada tahun 2018

Akan tetapi publik sudah terlanjur terhipnotis dengan apa yang dilakukan oleh Tony Pulis dengan klub berjuluk. The Potters tersebut sebelum hengkang dari klub pada tahin 2013. Namun, publik dan penggemar sepakbola Inggris tentunya akan selalu teringat bagaimana “mengerikanya. Stoke City dibawah asukan Tony Pulis terutama ketika bermain di markas sendirinya. Brittania Stadium yang konon katanya memiliki magis tersendiri layaknya. Old Trafford milik Man United ketika Stoke Ciry masih berada dibawah kepelatihan Tony Pulis.

Entah siapapun yang bertanding disana, baik itu tim besar , tim menengah ataupun kecil akan. Merasakan repot dan sulitnya untuk sekedar mendapatkan poin disana. Jika tidak percaya, buka saja di Youtube tentang higlight pertandingan yang dimainkan. Stoke City melawan klub-klub Liga Inggris pada periode 2008-2013. Lalu apa yang membuat Stoke City cukup kuat dan menjadi kuda hitam saat itu. Ternyata filosofi “Pulis-Ball” itu sendiri lah yang menjadi kunci kekuatan dari Stoke itu sendiri.

Apa itu Pulis-Ball Tentu saja publik jangan berharap bahwa Pulis-Ball adalah filosofi gaya permainan sepakbola yang indah layaknya Tiki-Taka. Jogo Bonitto ataupun Kick n Rush, filosofi “Pulis-Ball” cenderung merupakan gaya. Negative Football dengan menerapkan taktik sepakbola bertahan total dan menumpuk sepuluh atau sebelas pemainya di. Area wilayah sendiri ketika lawan menyerang dan cenderung mencetak gol “hany. Melalui serangan balik ataupun melalui sepak pojok atau tendangan bebas.

Sebenarnya strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Jose Mourinho, hanya saja Mourinho bisa mendapatkan piala sesangkan Tony Pulis tidak. Lalu apa yang membuat filosofi Sepakbola Negatif ala Tony Pulis menjadi suatu keunikan tersendiri yang mampu membawa Stoke City bertahan di kerasnya Liga Inggris selama beberapa tahun lamanya Jika Mourinho memilih untuk membangun skuad utamanya dengan pemain bintang dan harga mahal.

Kebersamaan Stoke City bersama Pulis harus berakhir pada tahun 2013

Maka, Tony Pulis lebih memilih untuk membangun skuad yang sangat “murah dan sederhana” dan menariknya, skuad Stoke City dijaman Tony Pulis lebih memilih untuk membentuk skuad yang “murah dan sederhana” dan menariknya Skuad Stoke saat itu didominasi hampir oleh semua pemain asli kelahiran tanah Brittania itu sendiri seperti Inggris, Skotlandia, Wales hingga Irlandia. Dengan formasi 4-4-2, Tony Pulis memainkan taktik Long Ball yang cukup membosankan namun efektif untuk tim sekelas Stoke Ciry yang selalu bermain bertahan.

Bukan hanya itu, Tony Pulis juga memilih pemain dari posisi kiper, bek, gelandang hingga Striker dengan tinggi rata-rata 185-193 cm, tentu saja ini bermanfaat agar Stoke City bisa memenangi duel udara pada permainan umpan lambung dan long ball ataupun dapat mencetak gol pada situasi bola mati seperti sepak pojok ataupun tendangan bebas. Tak heran, jika mayoritas gol yang dicetak oleh tim asuhan Pulis itu sendiri mulai dari Stoke City hingga WBA terlahir dari situasi sepak pojok ataupun serangan dari belakang dengan umpan lambung langsung ke depan pertahanan lawan.

Tentu saja kita masih mengingat ketika Stoke City merekrut Peter Crouch, pemain terjangkung 202 Cm pada tahun 2011 yang menjadi kunci keberhasilan taktik Tony Pulis bersama Stoke City. Hasilnya Stoke City dibawah asuhan Mark Hughes menjelma menjadi tim “liberal” dengan banyak membeli dan membentuk skuad non Brittish dengan pemain-pemain di berbagai Eropa.

Hanya saja itu tetap tidak menolong Stoke City dari degradasi pada tahun 2018 kendati mereka sudah membeli banyak pemain bintang nan berkualitas seperti Xherdan Shaqiri, Bojan Krkic, Afellay hingga Nzonzi. Tentu saja kita berharap supaya Tony Pulis bisa kembali ke Liga Inggris di musim mendatang kendati sepakbola negatif yang diterapkanya tidak sesuai dengan permainan Liga Inggris yang dianggap cukup ofensif dan jual beli serangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *